<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2040854795961018192</id><updated>2011-07-07T14:03:08.274-07:00</updated><category term='LINGKUNGAN'/><title type='text'>surin WELANGON</title><subtitle type='html'>see the simplicity of a sincere friendship</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://surinwelangon.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>surin welangon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07579903125736894403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LLo7ggGrI/AAAAAAAAAAc/GprNqv_NBSk/S220/surin.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2040854795961018192.post-1239721833811803144</id><published>2010-02-26T10:44:00.001-08:00</published><updated>2010-02-26T11:06:44.364-08:00</updated><title type='text'>seni Trotoar tanpa lampu Merah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S4gWlyN9QJI/AAAAAAAAACY/uxDrB46NubI/s1600-h/gni2.gresik.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S4gWlyN9QJI/AAAAAAAAACY/uxDrB46NubI/s320/gni2.gresik.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;meta content="text/html; charset=utf-8" http-equiv="CONTENT-TYPE"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta content="OpenOffice.org 3.1  (Win32)" name="GENERATOR"&gt;&lt;/meta&gt;&lt;style type="text/css"&gt;	&lt;!--		@page { margin: 0.79in }		P { margin-bottom: 0.08in }	--&gt;	&lt;/style&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;eni Trotoar tanpa lampu Merah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;inkonsistensi tema ( Baca : &lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt;&lt;i&gt;Budaya&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="es-ES"&gt; ) dalam cacatan surin welangon &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center" lang="es-ES" style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;FORKOT /Forum Kota gresik &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; menempuh jalan alternatif pada saat  seni ter- pinggir-kan oleh sistem regulasi kebijakan penguasa. para pekerja seni menemui jalan buntu untuk menuju ruang transformasi budaya, di gresik hampir tak pernah ada ruang yang secara ikhlas diperuntukkan oleh pemerintah untuk seniman dalam proses mendokumentasi kebudayaannya.   mediasi  gelaran  Forum Kota dengan tema ”&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;seni trotoar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; ”tanpa narkoba, agaknya harus secara klise perlu dijelaskan disini. Mengapa saya pisah tema diawal  antara &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;seni trotoar&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; dalam tanda petik dengan tema tanpa narkoba. mengapa juga perlunya dipertajam kekuatan tema dari  segala niat yang muncul dan terhimpun menjadi visi  kegelisahan para pegiat - penikmat seni, budaya, untuk menemukan ruang publik / gedung presentatif.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;b&gt;Trotoar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; muncul sebagai  tema dalam launching biro seni forkot, berbagai elemen yang bergesekan selama ini,  daya tahan  eksistensinya hingga saat ini karena para pegiat musik perkusi , penikmat musik pop ( Group Band ) secara sengaja selalu membentuk opini – opini kecil di warung kopi. Ide-ide keterbatasan muncul lalu Forum Kota menangkap signal  akan situasi perlu atmosfir  kesenian di gresik. Dengan membawa tema Trotoar diharapkan secara ”iba” dan dalam tinjauan estetik yang unik, trotor bisa dijadikan alasan untuk siapapun tertampung untuk memberikan kontribusi apresiatif terhadap seniman yang akan menawarkan gagasannya. Sayang sekali ide kontemporer trotoar tidak dapat dilaksanakan karena kendala teknis jalan protokol dan terpaksa tema ini menjadi inkonsisten ketika berbagai elemen yang hadir di geser kedalam suatu space yaitu samping halaman gedung berpaving dan secara otomatis aura yang akan muncul dari seni trotoar  sudah jauh dari semangat awal yaitu seni trotoar dan berbagai dampak  aksi reaksi artistik, kemudian  dapat diidentifikasi menjadi gejala pembaharuan gerakan seni pinggiran di gresik. Contoh lain media seni instalasi berupa miniatur visual traktor dari media kertas semen dan bambu yang digunakan Forum Kota ketika melakukan demontrasi menolak reklamasi pantai.ini adalah awal dari sebuah pengungkapan media seni ( seni rupa dan teater ) dalam mengiringi aksi  sebuah elemen masa aksi di kota gresik. Dan dapat juga dikatagorikan seni pertunjukan menurut saya. &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Lantas gagasan &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; apa yang mau ditawarkan digelaran tema seni trotoar kali ini, seni apa yang mau diapresiasi, untung masih ada musikalisasi puisi yang disajikan oleh KOmunitas PInggiran , yang bisa mengingatkan keadaan dan siklus kebudayaan yang terjadi di kota SANTRI ( kawaSAN indusTRI ), bagai sebuah arena , gelaran Forum Kota hanya menfasilitasi ruang dan waktu, publik yang hadir lebih gampang dicerna karena publik Forkot bukan publik yang secara mampu memformalisaikan kebudayaannya dimana dia dibesarkan, publik yang hadir adalah komunitas penghobi genre musik pop komersil yang mengelompok  dan terbagi menurut nama band yang di FUNs –natik-kan. Wow...sebuah dialektika yang unik bahwasanya kelompok Funs yang tergabung dalam Slankers, ST12-setia, Ranger canchuters, Massiver ..mau dan meluangkan hadir dengan membawa solidaritas yang tinggi untuk peduli dalam suatu tema ” seni pinggiran ”saya katakan ini adalah onani kebudayan dari kelompok yang dihimpun oleh kekuatan solidaritas hubungan emosional dan intelektual yang dijaga oleh para eks-aktifis PMII  terhibrida dengan beberapa genre seniman lalu muncul dalam satu obsesi seni, FORKOT beserta masyarakat  Funs Club-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;	Tak ada dialog dalam session membicarakan kebudayaan, seperti kegelisahan Soekarno ketika menghadapi  varian musik rock`n roll, cha..cha..cha..ngak ngik ngek . pada dekade demokrasi terpimpin 1959 . penyaji dalam hal ini Kris A.W seorang pelukis dan ketua Dewan Kesenian Gresik yang memang alfa dan harus menyadari bahwa relasi gelaran pada forum ini adalah awal dari persentuhan para pegiat, pelaku kebudayaan ( Seniman ) dengan warga kotanya. Yang hedonis, sekretarian, dan cendrung konsumeris dan terse- skat oleh aliran musik meski tampil  utuh sebagai hasil korelasi solidaritas, tidak ada yang salah dalam gelaran di ruang publik kali ini, karena kota gresik sendiri para pegiatnya terlalu mendikotomi antara seni eksklusif yang lahir dari seniman akademis dan seni pinggiran yang lahir karena gesekan hegemoni sosial dan penikmat seni yang ada di kampus, di program – program kulikuler. dalam peta  penyajian karya sehingga mana rupa, tari, teater,sastra , film, musik  , komunitas funs musik industri jauh dari sosio kultur gresik yang notabene gresik dalam endapan sejarah abad – 14 adalah kota pelabuhan yang dengan segala jenis urbanisasi tentunya akan membawa warisan sejarah budaya etnisnya sendiri, dan dalam sejarah kekuasaan memastikan sebuah kasanah islami yang akan tertampilkan dan dijaga ketat oleh penguasa sebagai seni warisan adiluhung ( Exclusive ), dalam konstelasi budaya nasional gresik bisa di tafsirkan dalam damar kurung mbah masmundari, songkok H. Awieng, yaitu budaya tradisionalisme aliran ketimuran ( 1930-an ), dalam momongan ke-partai-an ( Berdirinya Cabang Lesbumi digresik – 1960-an ) tradisionalisme – modern ( Mural dinding karya sapto raharjo di gedung wisma A.Yani 1970-an )  , dan masih banyak lagi yang belum tercover yaitu para pegiat teater cager, pada perupa angkatan 80-an ( Lulusan ASRI – ISI Yogyakarta – IKIP / UNESA Surabaya ) yang mewarnai daya apresiasi masyarakat gresik yang cenderung memandang seni rupa adalah seni pragmatis ( pengaruh booming art dealer lukisan surealisme  Yogyakarta , Surabaya ). Sastra realisme sosial H.U. Mardi Luhung yang melalang buana hingga tak terbaca oleh masyarakatnya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Sebuah kebingun&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;gan ketika mau ngomong akar budaya, kemana dan di mana tempatnya, kenapa forkot mengagas di trotoar ? apa ini majas sarkasme yang ditujukan  bagi para pengelola daerah karena lupa antara visi negara dalam membangun kebudayaan dengan terselenggaranya iklim keseniaan yang di dalamnya penguasa juga harus bertanggung jawab untuk memberi respon positif pada pelaku-pelaku estetika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Bagi saya tema &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;trotoar akan lebih indipenden ( TANPA ) &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;u&gt;tanpa&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt; sosialisasi UU &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;u&gt;narkoba&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;, Support  iklan , Pesan Sponsor dari BNK( Badan Narkotika Kabupaten gresik  )  pada acara yang disajikan pada malam itu,  dengan mensosialisasikan undang-undang no 35 tahun 2009 tentang narkoba, tutor menjelaskan sembari menayangkan slide / fragmen 2 gadis belia pecandu narkoba, miris,..... tapi saya tidak yakin semiris nasib kesenian di kota gresik. Sebuah langkah yang sangat awal memang bagi  biro seni Forkot untuk  me - redesain kembali sebuah wacana gelaran publik budaya yang nantinya akan disajikan  pada tiap bulanan dengan secara nomaden dan diharapkan bisa menghadirkan pegiat - penikmat seni yang berbeda – beda. Sunguh usaha yang tidak mudah untuk mendekatkan seni pada publik, tentunya dengan berbagai audiens yang bisa memahami wacana seni – seni wacana . dan saya yakin situasi ini jika berlangsung terus menerus akan terjadi  dengan sendiri apa esensi dari kebudayaan gresik lantas akan menemukan akar budaya gresik yang selama ini selalu luput dari sapaan para pelaku seni di gresik. Apa seni hanya mencapai takaran  sekedar rasa nikmat dan menjadi gaya hidup berkelompok anak-anak pecinta ( Funs musik komoditas ), atau seniman gresik akan kembali terjebak pada imajinernya sendiri, dan art publik lebih dikehendaki dari pada eksistensi DKG&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;tanggal &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;20 februari 2009 di pelataran gedung pramuka-gresik , ketua DKG sebagai penyaji juga tidak punya kesempatan banyak untuk bicara tentang idealisme seni dan mensosialisasikan DKG dengan bentuk yang bisa renyah untuk didengar  publik di gresik , beliau berusaha menawarkan jika seniman dan masyarakat perlu kehadiran DKG,  apapun caranya, apa dengan ada kontrak politik ( Gresik menjelang Suksesi Pilkab ), atau people power ( Kebuntuan lobi ) . Ketua DKG ini malah tak sengaja mengadu pada publik tentang lambatnya Surat Keputusan ( SK ) dari Bupati gresik yang digantung sejak 2007 belum turun juga , otomatis DKG hidup dengan 0.0 digit untuk menjalankan agenda yang telah menjadi amanat musyawarah seniman gresik,  , suasana sedikit profokatif ketika saya katakan ,``Rebut GNI untuk Kesenian dan Kebudayan .” dan audien yang 85 % adalah para kumpulan Fun Club Musik langsung menyambut dengan nada ke-kiri-an—rebut. .......rebut,....cita rasa seperti manifesto kebudayaan yang telah 80 tahun kita lampau, kenapa harus kontrak politik, kenapa tidak mengadopsi gagasan – gagasan forkot, atau NGGRESIK dotcom ( Kumpulan Blog`e wong gresik )untuk terus memanfaatkan ruang publik dan ruang maya, kenapa harus menunggu direbut , bukankan jalan kesenian akan lancar tanpa &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;lampu merah&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Setidaknya baru terasa bahwa DKG tidak sendirian, seniman gresik masih punya penikmat meskiput kiblat mereka berbeda. Penikmat universal dalam tataran pemahanan tentang seni hanya sampai pada tataran unik dan mahal. Ya.....awal dari insulin yang baik untuk menghangatkan agenda- agenda biro seni Fokot ke depan. Dan sejak acara dibuka yang bisa saya definisikan  adalah sebuah istighosah budaya untuk menyelamatkan sejarah warisan, romantisme kejayaan kanjeng sunan yang harus dipertahankan sehingga segala bentuk seni pinggiran yang begitu dekat dengan kerakyatan akan muncul menjadi penyadaran – penyadaran di ruang - ruang kapitalisme industri, dan komunitas – komunitas seniman melenceng dari budaya timur dan tumbuh secara uiversal akan membunuh citra rasa gresik kota santri , atau para hedonis tetap menjadi manusia yang pasif karena tergerus komoditas musik kaset VCD, Gadget , dunia maya ,Facebook, Perfect Wold, Mafia war, kekuawatiran pengakuan  para penikmat, pegiat seni untuk mengadukan , menanyakan relasi seni dan pemerintah kepada birokrat di kota gresik, bahwa mereka membutuhkan ruang sebagai gelanggang untuk meletupkan  karya guna bertemu antara pegiat dan  penikmat mereka. Jika ini tak direspon serius oleh penguasa maka akan menjadi bom waktu yang akan meledak menjadi aliran – aliran kepentigan, dan kesenian gresik akan lebih banyak  menyuarakan unsur afiliasi golongan dari pada umanisme sosial. Dan satu lagi catatan yang ringkas. Kesenian gresik harus didekatkan dengan masyarakatnya sebelum masuk kembali para ruang ekslusif yang malah tak jamah ,  ruang publik – publik harus dimanfaatkan karena disanalah gagasan – gagasan segar akan muncul dikemudian. Siap – siap saja seandainya UNMU membuka satu lagi ruang  Fakultas Seni dan Sastra , Ok....Serasa minum es jeruk disiang hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="sv-SE" style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;---------&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;------Surinwelangon22/02/2010.penulisadalalahPegiatsenidanbudaya-----------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="sv-SE" style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2040854795961018192-1239721833811803144?l=surinwelangon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surinwelangon.blogspot.com/feeds/1239721833811803144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/seni-trotoar-tanpa-lampu-merah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/1239721833811803144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/1239721833811803144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/seni-trotoar-tanpa-lampu-merah.html' title='seni Trotoar tanpa lampu Merah'/><author><name>surin welangon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07579903125736894403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LLo7ggGrI/AAAAAAAAAAc/GprNqv_NBSk/S220/surin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S4gWlyN9QJI/AAAAAAAAACY/uxDrB46NubI/s72-c/gni2.gresik.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2040854795961018192.post-1450423416996112884</id><published>2010-02-14T01:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-14T01:32:04.704-08:00</updated><title type='text'>Communities Guard Tolerance</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3fDAYJFpoI/AAAAAAAAACI/L6GFlAkC9Z4/s1600-h/pancasila1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3fDAYJFpoI/AAAAAAAAACI/L6GFlAkC9Z4/s320/pancasila1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;assalamua'laikum wr.wb''''&lt;span id="goog_1266139280825"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_1266139280826"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;I am an Indonesian who want to voice their simplicity.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Suppose the current era of so many people who do not hesitate to spend money to jutaaan dollar in the club scene in a matter of minutes, but when there are our brothers and sisters of the affected and their needs pertolangan we mengeluarakan only several tens of thousands of dollars just , and even then in the formal occasions only, so the crowd can be seen to increase in popularity mereka.I`m is not generous because I have keterbatsan, but seeing something like that the above makes my heart sad and asked, is there a conscience in us all?&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;The sound of sirens in the kelilingkan alleyways 5 to 7 children kilogram-meter walk, carrying boxes of instant noodles used came from door-to door neighbors, asking, `` Who's sick?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Dead,?? Where there is a disaster,??&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Ning atun put new money denominations of 2000, and the kids briefly explain what the objectives of their tour.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;3 hour tour.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;Rupiah coin denominations for coins, sheets are stacked so the total will be given to a family tragedy, this is a quick example of social in our&amp;nbsp; Surabaya osowilangun village pond, and I'm sure in other places are still there,&lt;/span&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;a clear concern in a community, will help the sovereignty of the nation, so to speak pack muezzin in his speech when instructed to goin the petakziah ...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span onmouseout="_tipoff()" onmouseover="_tipon(this)"&gt;&lt;span class="google-src-text" style="direction: ltr; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;wassalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"&gt;wassalam&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2040854795961018192-1450423416996112884?l=surinwelangon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surinwelangon.blogspot.com/feeds/1450423416996112884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/communities-guard-tolerance.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/1450423416996112884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/1450423416996112884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/communities-guard-tolerance.html' title='Communities Guard Tolerance'/><author><name>surin welangon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07579903125736894403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LLo7ggGrI/AAAAAAAAAAc/GprNqv_NBSk/S220/surin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3fDAYJFpoI/AAAAAAAAACI/L6GFlAkC9Z4/s72-c/pancasila1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2040854795961018192.post-2801417840859050669</id><published>2010-02-10T05:23:00.000-08:00</published><updated>2010-02-10T07:37:06.301-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LINGKUNGAN'/><title type='text'>MEMANDANG PANTURA HIJAU TANPA REKLAMASI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LSACnXRKI/AAAAAAAAABA/IXJZHtVSbs0/s1600-h/CIMG7664.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LSACnXRKI/AAAAAAAAABA/IXJZHtVSbs0/s320/CIMG7664.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436638598333416610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pantai utara yang membentang di garis sepadan pulau jawa membutuhkan 3000 juta tahun lamanya untuk ber-konservasi sehingga menjadi kekuatan garis daratan bumi kita sekarang ini. Sebuah konservasi yang dipenuhi suaka dan biota serta berbagai kehidupan yang menjadikan nelayan dan ibu-ibu penjual ikan di berbagai pasar bisa survive guna menopang sandang,pangan , pendidikan anak-anaknya, sebuah masarakat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;marhaen&lt;/span&gt; (orla), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Madani&lt;/span&gt; ( orba ),&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bisa&lt;/span&gt; ( orlaba) begitu kira kira yang diharapkan oleh penghuni bangsa ini. sungguh menajubkan,seandainya bisa kita pertahankan garis konservasi kita kedepan. Setiap detik limbah beracun dapat diresap, setiap kali badai topan bisa dihadang oleh kokohnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tanjang&lt;/span&gt; dan Si &lt;span style="font-style: italic;"&gt;api-api&lt;/span&gt;. Teman-teman komunitas Osowilangun sedikit demi sedikit menanam bibit bakau hingga ratusan meter membentang kearah utara pulau galang surabaya. Dan itu sudah 10 tahun yang lalu sambil teriak-teriak STOP REKLAMASI diberbagai forum AMDAL . 2009 disambut bapak Fatkhur Rochman kepala desa sukorejo-Gresik dengan  membeli  5000 bibit bakau , ditebar sepanjang kali lamong untuk mengingatkan bahwa tak selamanya bumi ,air, tumbuhan milk kita sendiri karena ada anak cucu kita nanti, TOLAK REKLAMASI berlanjut , dibentangkan poster  dan ratusan pemuda dalam satu aksi massa Forum Kota Gresik yang dikawal mas Yudi Santoso mengeksekusi setiap gerakan reklamasi di tahun 2010 bahwa pantai gresik harus cantik tanpa Reklamasi, amin ya robbal alamin. kita mungkin tidak menyadari bahwa setiap keputusan yang kita ambil, baik individu maupun kelompok mempunyai dampak langsung maupun tidak langsung bagi keselamatan konservasi alam kita, dan menjadi tanggung jawa setiap orang untuk mengembalikan konservasi kita guna memandang pantura hijau tanpa urukan tanah untuk industri yang jauh dari dari konsep nelayan dan ibu-ibu penjual ikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2040854795961018192-2801417840859050669?l=surinwelangon.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surinwelangon.blogspot.com/feeds/2801417840859050669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/memandang-pantura-hijau-tanpa-reklamasi.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/2801417840859050669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2040854795961018192/posts/default/2801417840859050669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surinwelangon.blogspot.com/2010/02/memandang-pantura-hijau-tanpa-reklamasi.html' title='MEMANDANG PANTURA HIJAU TANPA REKLAMASI'/><author><name>surin welangon</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07579903125736894403</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LLo7ggGrI/AAAAAAAAAAc/GprNqv_NBSk/S220/surin.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PEOYbeYRH4Q/S3LSACnXRKI/AAAAAAAAABA/IXJZHtVSbs0/s72-c/CIMG7664.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry></feed>
